Perjalanan Joko Lelono
Konon, perjalanan Joko Lelono berawal dari salah paham dengan ayahnya, Begawan Sidik Wacana. Perkataan sang ayah membuat penglihatannya hilang. Ditemani Ki Mertak dan Ki Jebres, ia pergi menunggang gajah untuk mencari pertolongan. Begawan Sidik Waseso akhirnya memulihkan penglihatannya.
Cahaya dan sang putri
Di perjalanan pulang, cahaya menarik perhatian Joko Lelono. Ia mengikutinya hingga tiba di gerbang alam gaib, tempat Dyah Ayu Putri Serang berada. Merasa telah menemukan tambatan hati, ia melangkah masuk dan meninggalkan kedua pengawalnya di luar.
Pertarungan gajah dan naga
Sambil menunggu, kedua pengawal memperoleh bekal dari Ki Makarang. Mereka kemudian mendengar kabar pertarungan gajah tunggangan mereka dengan naga sang putri. Kedua hewan itu binasa. Para pengawal lantas menanam kelapa muda di sekitar kepala keduanya.
Munculnya mata air
Ketika kembali mencari bekal, mereka tidak lagi mengingat tempat kelapa ditanam. Sebatang bambu digunakan untuk mencarinya. Begitu kelapa tertusuk, air memancar semakin deras. Dalam legenda ini, pancaran tersebut menjadi awal mata air Umbul Nogo.
BACAAN RUJUKAN
78 Legenda Ternama Indonesia
Wahyu Setyorini dan Tim WIN (Wong Indonesia Nulis)
Narasi disajikan sebagai penceritaan ulang secara ringkas dengan bahasa sendiri, bukan kutipan langsung dari buku.
Lihat katalog buku